Quantcast

Monday, August 17, 2015

#Magnetism: Introduction

Saya tidak akan banyak menjelaskan tentang sejarah dari Magnetisme karena sudah banyak sumber baik dari website, buku-buku di perpustakaan, dan atau sumber berupa blog dan lain sebagainya yang menjelaskan tentang sejarah dan penjelasan lebih mendalam tentang magnetisme. Dan tidak ada salahnya jika setiap kita membuka diri untuk paling tidak menyiapkan 20 menit minimal untuk membuka sumber-sumber tersebut untuk membaca atau mengenal sedikit tentang teori magnetisme.
Disini, saya hanya ingin sedikit berbagi tentang magnetisme menurut pandangan saya secara pribadi dan hubungannya dengan kehidupan kita.
Apa itu Magnetisme?
Bagi saya, magnetisme ada dan terjadi dalam tubuh kita. Ambil satu contoh simpel dari pelajaran SD kita dulu. Ketika kita menggosokkan sebilah penggaris dari mika ke rambut kita, lalu mendekatkannya pada potongan-potongan kertas kecil dimeja, tiba-tiba potongan kertas tersebut melakukan loncatan yang tidak teratur. Hal ini sudah cukup membuktikan bahwa teori dasar magnetisme mengenai gaya tarik menarik yang diciptakan dari gesekan sebilah penggaris mika ke kulit atau rambut tadi dapat menyebabkan munculnya energi magnet yang menyebabkan tertariknya kertas-kertas tadi.
Magnetisme sendiri adalah sebuah gaya tarik-menarik antara kedua kutup, kedua pola.
Aplikasinya dalam kehidupan?
Saya yakin setiap orang pasti pernah berpikir mengenai adanya cinta, kasih sayang, benci dan rindu. Hal yang tidak berwujud secara fisik namun efeknya adalah tarik menarik. Seperti halnya sudah dibahas dalam beberapa kitab mengenai diciptakannya manusia berpasang-pasangan, dan terdapat daya dan gaya tarik menarik.
Magnetism in our boody

Banyak penjelasan dan pendapat mengenai magnetisme dan teori serta aplikasinya, dan sudah banyak ilmu yang membuktikan keberhasilan sementara dari teori tersebut, dan seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, maka berkembang pula teori dan aplikasi dari magnetisme ini. Saya yakin maish pada ingat dengan bagaimana kutub yang sama tidak akan saling tarik menarik dan kutub yang berbeda justru terjadi tarik menarik. Sementara dalam hubungan manusia, terjadi seuatu hubungan yang lebih kompleks lagi, mengenai bagaimana sesam jenis bisa terlibat sebuah hubungan asmara dan cinta. Rumit dan teori yang menjelaskan tentang magnetisme berasa tidak ada ujungnya, masih terus berkembang. Seperti halnya, jika menanam kebaikan, maka akan memetik buah kebaikannya, namun kita bisa saksikan bagaimana yang terjadi ketika seseorang mengalami fitnah, mendapatkan dan menanggung sesuatu yang dirinya tidak kerjakan.
Magnetisme, Law of Attraction dan Religi
Bagi yang belum mengetahui apa itu law of attraction, saya sudah sedikit menjelaskan mengenai hal tersebut pada beberapa post sebelumnya.
Beberapa pakar menghubungkan kedua teori ini. Terjadi dan tidak terjadi, terbukti dan tidak terbukti. Sulit mengatakan hubungan keduanya, berhubungan namun kadang tidak terjadi. Spertin halnya Orang-orang baik akan mendapatkan pasangan yang baik sementara sebaliknya bagi yang berlaku tidak baik atau sebut saja jahat. Kenyataannya beberapa orang baik mendapatkan pasangan yang luar biasa nakal atau sebut saja “tidak jelas”. Sementara ada beberapa orang yang negative, justru berpasangan dengan bidadari dunia dan atau bidadara yang baik hati. Aneh ya?
Bagi para penganut agama, beberapa orang akan memegang teguh konsep agama yang lebih menyerahkan segala sesuatunya terhadap keputusan Tuhan, atau sebut saja, hidup ini “let it flow saja” atau “terserah Tuhan” mau bagaimana. Dan hal tersebut seolah berkebalikan pula dengan teori keimanan. Konsep dasar dari Iman adalah Percaya. Dan beberapa orang percaya dengan berlaku baik bahkan kepada yang jahat sekalipun, percaya bahwa kebaikan akan berbuah kebaikan sementara kejahatan akan menerima akibatnya. Sementara beberapa orang saling mendoakan yang “celaka” bagi beberapa orang yang berbuat tidak menyenangkan kepadanya, sementara sisanya, justru mendoakan kebaikan dan dibukanya mata terhadap jalan lurus dan kebaikan kepada para penjahat tersebut. Intinya, Iman adalah percaya, dan sekali percaya, teguhlah pada kepercayaan yang dipegang dan hal ini disebut sebagai konsistensi dalam keimanan.
Attraction = Attract + Action
Bagi saya, ada satu rumusan yang terasa ganjil dalam hubungannya dengan gaya tarik menarik. Beberapa teori yang saya pelajari sedikit membawa bukti dalam kehidupan saya.
Sebut saja, jika seseorang berdekatan dengan penjual sate, maka bau orang tersebut akan tercium bau bakaran sate. Sementara jika seseorang berdekatan dengan penjual minyak wangi, maka orang tersebut akan berbau wangi seperti minyak yang dijual. Namun bagaimanapun hal ini masih sebatas teori yang masih dapat disangkal dengan mentah-mentah. Bagaimana jika angin berhembus berkebalikan dari tempat berdiri seseorang yang berdekatan dengan penjual sate sementara angin tersebut justru menghembuskannya pada orang yang berdiri sedikit lebih jauh dari penjual sate tersebut. Dan atau jika minyak tersebut ternyata dibungkus dengan rapat, maka bau minyak wangi tidak akan berbau sampai minyak wangi tersebut disemprotkan pada mereka yang berniat mencium baunya.
Yah, inilah yang saya sebut dengan tidak serta merta menerima teori, namun sedikit lebih mendalaminya. Seperti halnya beberapa anak-anak tiba-tiba berubah jadi anak nakal karena mencontoh apa yang dilakukan di lingkungannya. Tapi kenyataannya, saya bisa menyaksikan beberapa berita menuliskan bahwa bahkan orang yang berdekatan dengan para pemuka agama sekalipun, justru melakukan tindakan korupsi dan kolusi.
Semua teori tersebut berarti tidak bergantung pada 1 konsep saja, kembali pada si pelaku itu sendiri dan tindakannya, kembali pada si pelaku itu sendiri dan responnya terhadap kejadian yang terjadi dan kesempatan yang diberikan.
Nah, silakan mencari pencerahan berhubungan dengan hal-hal tersebut diatas. Dan saya akan kembali berbagi mengenai elemen yang berhubungan dengan semua teori diatas. Kembali lagi, ini hanya sebuah pembahasan dari perspektif saya. Karena bagi saya, hidup ini cukup misterius untuk dipelajari, dan munculnya setiap teori adalah dari praktik dan pengalaman yang dialami, dan pengalam hidup setiap orang tidaklah sama. Jadi tujuannya adalah untuk mengambil inti sari agar dapat bermanfaat.
Selamat berpikir dengan cara Tuhan dalam memandang kehidupan dunia ini.

0 komentar:

Post a Comment

Terimakasih telah berkomentar dengan santun. Maju Blogger Indonesia

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | SharePoint Demo