Melanjutkan ulasan dari artikel sebelumnya, #Law of Attraction: Introduction 2.
b. Hati dan Perasaan
Bermula dari sebuah pikiran dan prasangka, turunnya paling dekat akan ke hati dan perasaan. Karena keduanya merupakan sebab-akibat, tidak terelakkan dan terpisahkan. Seperti sebuah peribahasa mengatakan, "Dalam pikiran baik, terdapat kebaikannya hati".
Jika kita bisa mengontrol kebiasaan berprasangka atau berpikir negatif, maka hati dan perasaan akan terjaga. Hati yang takut, dimulai dari gusar dan takutnya pikiran. Hati yang gembira, dimulai dari pikiran dan prasangka yg senang. Dan hati yang damai, dimulai dari pikiran yang berbaik sangka dan berpositif thinking.
Ambil saja sebuah analogi dari para motivator, atau sebut saja para kyai, atau bahkan mungkin guru atau orang tua kita. Pikiran mereka yang tetap tenang, berpikiran bahwa disetiap kesulitan selalu ada kemudahan dan jalan, sangat berpengaruh pada hati mereka yang kalem dan tenang-tenang saja.
Karena mungkin bisa jadi, mereka yang sudah banyak makan asam garam, terbiasa dengan kondisi terujikan problematika kehidupan. Mari belajar dari mereka, gagal atau terjerembab, setiap kesulitan, akan selalu ada titik terangnya. Seperti halnya disampaikan secara gamblang oleh R.A. Kartini: "Habis gelap, terbitlah terang," atau dari satu petikan ayat di Al Qur'an: "Inna ma'al usri yusro, fa' inna ma'al usri yusro" yang artinya, "Setelah kesulitan, selalu ada kemudahan, Sesungguhnya setelah kesulitan selalu ada kemudahan."
c. Lisan atau Ucapan
Lisanmu adalah doamu, lisanmu adalah harimaumu, lisanmu setajam pedang bermata dua. Apa yang dikeluarkan dari sebuah teko adalah sesuai dengan apa yang ada didalam teko.
Ada begitu banyak kiasan dan peribahasa berhubungan dengan lisan. Hal ini berarti, lisan merupakan sebuah komponen yang sangat penting dan tentunya tiada terpisah dari kedua komponen yang telah disebutkan sebelumnya.
Ketika pikiran dan hati terjaga, tiada mungkin lisan akan menelurkan kebiadaban, sumpah serapah, atau caci makian. Lisan lebih pada sebuah output, cetakan, alat yang mengikuti kehendak. Apa yang muncul darinya, yang terlahir darinya, adalah berdasarkan apa yang ada didalamnya.
Karena itu perangkat lisan yang terdiri dari bibir, lidah dan gigi, akan menghasilkan sebuah karya yang disebut lisan. Sebuah hasil resonansi yang dikirimkan oleh signal otak, dan frekwensi panas dinginnya hati.
So, refleksikan kembali...apa yang selama ini terlahir dari perangkat lisan anda. Perhatikan, baik baik.
Saya akan ambilkan sebuah pertanyaan untuk anda.
Mengapa orang yang teraniaya, akan dikabulkan doanya?
Ambil sampel dari sebuah legenda masa kanak kanak dulu, Si Malin Kundang yang disumpah serapah Ibunya...dan terjadi.
Lalu coba pikirkan, kenapa dalam setiap agama, ada berbagai doa untuk keperluan khusus. Misalkan, doa meminta hujan, doa meminta keturunan, doa meminta perlindungan.
Bisakah anda sesikit menarik pemahaman dari sini?
Sederhana saja!
Doa tersebut menjadi mustajab, ketika anda memenuhi pikiran dan prasangka kepada Tuhan dengan yang baik baik. Lalu pikiran akan mengirim signal positif tersebut ke dalam hati...hati akan mencernanya...memformat sehingga terbentuk sebuah kondisi, suasana yang penuh perasaan, khidmat, percaya....dan dari situ....doa dilafadzkan dengan sempurna melalui lantunan resonansi yang teratur, merdu, penuh permohanan dan kerendahan...
Ud'uni astajab lakuum
Mintalah kepadaKU, niscaya AKU kabulkan.
Saya kembalikan kepada anda...ketika anda meminta kepada Tuhan. Saya analogikan agar lebih mudah dicerna. Anda ingin sekali punya mobil, dan anda akhirnya memutuskan bersoa, meminta pada Tuhan untuk punya mobil.
Pertama, apa uang ada dibenak anda ketika memintanya? Bisakah anda membayangkan, mengimajinasikan, memproyeksikan...mobil itu dekat dengan anda secara nyata. Seakan akan mobil itu memang sudah ada? Ataukah anda hanya sekedar meminta saja yang tanpa memikirkan bentuk dan warnanya?
Ya, ini bagian penting.
Lisan anda berkomat kamit, tapi anda tidak membawa gambaran dalam pikiran anda, anda tidak membayangkan apa manfaat, alasan, tujuan dari impian anda, doa anda....
Anda tidak perlu menjelaskan panjang lebar kepada Tuhan, DIA sudah tahu, tapi saranakanlah doa anda dengan bayangan yang jelas....apa yang terjadi jika anda sudah memilikinya...sehingga Tuhan melihat sendiri arti penting dari keinginan anda...alasan alasan disebaliknya.
Apalagi jika lantunan doa terlagukan mesra, puitis, dan penuh pengharapan....lisan itu menyempurnakan kinerja pikiran dan hati anda...menyuarakannya secara sempurna. Seperti halnya orng yang tersakiti terkabulkan doanya, iya, karena mereka tak sekedar meminta...mereka meminta dengan membawa keyakinan dalam pikiran mereka...pasti terjadi...dan menguatkannya dengan membawa perasaan hati mereka...bahwa mereka menginginkannya dengan alasan alasan yang tergumamkan dalam perasaan itu...lalu lisan mereka bermunajatkan lantunan syahdu permintaan...Lihat bagaimana Tuhan dengan sempurnanya mengabulkannya.

10:39:00 AM
Unknown
Posted in: 

0 komentar:
Post a Comment
Terimakasih telah berkomentar dengan santun. Maju Blogger Indonesia