Pertanyaan saya cukup simpel. Harusnya jawabannya simpel bagi anda yang sudah merasa merdeka. Tapi benarkah anda sudah merdeka? Apa buktinya anda sudah merdeka?
Pernahkah ada seseorang bertanya, siapa namamu? Lalu anda merasa malu menjawab nama karena aksen nama anda menggambarkan dari mana anda berasal. Anda berharap bahwa anda memiliki nama yang berbeda, nama modern, nama yang biasanya dipakai konglomerat. Ataukah merasa nama anda terasa #ndeso, #jadoel, tidak modern sama sekali.
Pernahkan seseorang bertanya kepada anda, apa pekerjaanmu? Lalu anda menjawab dengan penuh keraguan. Saya cuma orang biasa, pekerja biasa di perusahaan biasa. Anda tidak sedikitpun menampilkan simpulan senyum kecuali anda merasa pekerjaan anda seperti tali yang mengikat kencang dam menyeret anda dalam penderitaan. Anda merasa terbebani dan merasakan pekerjaan ini sebuah hinaan tidak langsung.
Lalu pernahkah anda mendapatkan pertanyaan, agamamu apa? Kau jawab jenis agamamu dengan bangga. Lalu seseorang itu melanjutkan, kenapa kau pilih agama itu? Dan kembali kau jawab dengan logika bercucuran. Kemudian seseorang tadi kembali menegaskan bertanya, apakah ada pertanyaan dalam batinmu ketika kau peluk agama itu karena bapakmu, ibumu, kakekmu juga memeluk agama yang sama? Benarkah keyakinan yang kau ucapkan tadi, jawaban yang kau layangkan adalah sebuah pertanda bahwa kau merdeka dalam menentukan apa agama yang kau pilih?
Ya...sebuah pertanyaan renungan, mengenai seberapa merdeka. Tapi bukan itu inti dari tulisan dalam judul ini. Saya bertanya kepada anda siapakah yang berkuasa atas hidup anda selama ini siapa yang berkuasa atas cita-cita anda? Siapakah mempelai yang anda pilih untuk menemani anda seumur hidup nantinya dan apakah benar atas perasaan yang merdeka atau karena cuplikan orang tua? Benarkah pekerjaan yang anda jalankan adalah yang anda cita-citakan bukan atas bimbingan meditatif orang tua karena melihat pengalaman saudara tua atau keponakan jauhnya yang berhasil karena jalan itu.
Kelak, anda akan hidup sendiri bersama keluarga yang anda pilih, dengan kehidupan sosial tempat anda memilih ladang kerja dan rumah yang anda bangun dan pilih sendiri. Orang tua anda ada masa kontrak hidupnya, istri anda dan anak anda juga bahkan diri anda juga. Tapi menetapkan kemerdekaan atas diri sendiri adalah sebuah pernyataan yang sulit. Saya pikir anda atau saya sudah merdeka.
Kadang anda harus terikat, anda harus mengikat, karena anda tahu tidak selamanya bergantung itu jelek, mandiri dan merdeka itu bagus. Tanpa penuntun siapalah anda atau saya. Tanpa petunjuk siapalah anda, saya atau kita.
Yang penting kita tidak merdeka yang sembrono, bukan merdeka, tapi tak peduli. Ada asas-asas yang harus anda dan saya teguhkan. Kemerdekaan adalah sebuah pilihan, tapi jangan menjadi budak nafsu dan egosentris pribadi, lalu berteriak sekencang mungkin tanpa memperdulikan telinga orang lain, berbuat sesuatu secara merdeka lalu melupakan atas ada hak orang lain atas apa yang kita perbuat.
Ini hanyalah sebuah perenungan. Anda dan saya akan tahu jawabannya. Suatu saat yang indah nanti.
Posted from WordPress for Android
8:13:00 AM
Unknown

Posted in: 

0 komentar:
Post a Comment
Terimakasih telah berkomentar dengan santun. Maju Blogger Indonesia